Sabtu, 18 April 2026

‎Jambi Butuh Arsitek yang Berakar Bukan Tukang Gambar

Photo Author
Rahmad Ade, Gema Lantang
- Sabtu, 6 September 2025 | 12:38 WIB

Foto ilustrasi - ‎Jambi Butuh Arsitek yang Berakar Bukan Tukang Gambar. (Gema Lantang/Ist)
Foto ilustrasi - ‎Jambi Butuh Arsitek yang Berakar Bukan Tukang Gambar. (Gema Lantang/Ist)

‎Namun, potensi ini tidak akan berkembang tanpa dukungan dan ruang yang memadai.

‎Menurut teori pembangunan partisipatif (Chambers, 1997), keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada keterlibatan aktif pelaku lokal yang memiliki pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan karakter wilayahnya.

‎Sayangnya, dalam praktiknya, arsitek muda sering kali dipinggirkan oleh sistem yang lebih mengedepankan jasa arsitek senior dari luar daerah yang sudah memiliki jaringan dan portofolio mapan.

Baca Juga: Kapuspen Respon 17 Plus 8 Tuntutan Rakyat untuk TNI

‎Pemerintah daerah berperan penting dalam memberikan kesempatan dan dukungan penuh kepada arsitek muda, baik dalam hal akses proyek maupun pembinaan kapasitas.

‎Misalnya, kebijakan afirmatif yang mewajibkan porsi tertentu proyek pemerintah ditangani oleh arsitek lokal muda bisa menjadi langkah strategis.

‎Begitu pula asosiasi profesi dan asosiasi jasa konsultansi harus aktif menjadi mentor dan fasilitator agar talenta muda tidak hanya menjadi pekerja teknis, tapi juga pemikir dan pelopor inovasi arsitektural.

Baca Juga: Teddy dan Sri Mulyani Ungkap Perintah Prabowo soal Ekonomi Indonesia

‎IAI Jambi: Organisasi Profesi atau Sekadar Penjaga Administrasi?

‎Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jambi merupakan wadah resmi bagi para arsitek lokal. Namun, peran IAI sejauh ini masih didominasi oleh aktivitas administratif dan seremonial saja.

‎Minimnya peran strategis dan advokasi membuat organisasi ini belum menjadi kekuatan penggerak yang mampu membangun narasi ruang dan kebijakan yang berpihak pada arsitek lokal.

‎Dalam teori kekuasaan simbolik (Bourdieu, 1991), institusi profesi tidak hanya berfungsi sebagai pengatur administrasi, tetapi juga sebagai produsen dan pengendali makna sosial. 

Baca Juga: Soal PPTB 'Jadi 2' Bukan Keretakan tapi Penyegaran

‎IAI Jambi idealnya menjadi lembaga intelektual yang mampu memimpin dialog lintas sektor: antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat. Ini penting agar arsitek lokal memiliki suara dalam kebijakan ruang publik dan pembangunan.

‎Untuk itu, IAI perlu memperkuat perannya sebagai fasilitator pelatihan berkelanjutan, inkubator gagasan, dan penerbit karya ilmiah maupun popular yang mampu mengangkat isu arsitektur lokal secara luas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rahmad Ade

Sumber: Martayadi Tajuddin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Membangun Jambi dari Pinggiran

Sabtu, 3 Januari 2026 | 07:27 WIB

Menguak Motif di Balik Pembela Investasi Jambi

Minggu, 28 Desember 2025 | 16:37 WIB

Pemandu Sorak Investasi dan Fenomena Suporter Bayaran

Kamis, 25 Desember 2025 | 12:43 WIB

UMP Jambi 2026 Idealnya Bisa Lebih Tinggi Rp200 Ribu

Senin, 22 Desember 2025 | 11:42 WIB

Penghambat Investasi, Modus Dukungan Menjadi Transaksi

Minggu, 21 Desember 2025 | 18:43 WIB

Ketika Kaum Proletar Membela Kapitalis

Sabtu, 20 Desember 2025 | 18:52 WIB

Kontribusi Batubara Bagi Pertumbuhan Ekonomi Jambi Kecil

Minggu, 14 Desember 2025 | 13:18 WIB

Eksistensi TUKS dan Regulasi Mengatur Tentang PNBP

Minggu, 14 Desember 2025 | 12:41 WIB
X