GEMALANTANG.COM -- Pembicaraan gencatan senjata yang akan berlangsung di Doha, Qatar, atau Kairo, diperkirakan akan melibatkan pejabat intelijen tinggi dari Mesir, Israel, dan Amerika Serikat, serta Perdana Menteri Qatar.
Namun hingga Selasa (13/08) kemarin, perwakilan Hamas belum berencana untuk ikut serta. Perwakilan Hamas di Lebanon Ahmad Abdul-Hadi mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa melakukan hal itu berarti kembali ke titik awal, dan menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel telah mengulur-ulur negosiasi.
Baca Juga: Pasukan Kyiv Gempur Wilayah Rusia, Biden : Dilema Bagi Putin
“Netanyahu tidak tertarik mencapai kesepakatan yang mengakhiri agresi secara tuntas, tetapi dia justru menipu dan mengelak serta ingin memperpanjang perang, dan bahkan memperluasnya di tingkat regional,” kata Abdul-Hadi dikutip New York Times, Rabu (14/08/2024).
Keputusan Hamas tampaknya bukan pertanda baik bagi terobosan pada hari Kamis nanti, tetapi itu tidak berarti kelompok itu telah sepenuhnya meninggalkan meja perundingan.
Baca Juga: Putin : Keputusan PBB Harus Dilaksanakan Dan Pembentukan Negara Palestina
Presiden Biden saat ditanya tentang potensi kesepakatan gencatan senjata, dia mengatakan kepada wartawan bahwa Hal ini semakin sulit tetapi dia tidak menyerah.
Pekan lalu, Biden bersama Presiden Abdel Fattah el-Sisi dari Mesir dan Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani dari Qatar, menyatakan bahwa waktunya telah tiba untuk gencatan senjata dan pembebasan sandera yang tersisa di Gaza.
Baca Juga: Ratusan Sekolah Di Gaza Remuk Jadi Saran Tembak Israel
"Tidak ada lagi waktu yang terbuang atau alasan dari pihak mana pun untuk menunda lebih lanjut," kata para pemimpin dalam pernyataan bersama.
Mereka juga mengatakan bersedia mengajukan proposal akhir yang menjembatani untuk menutup kesepakatan antara Israel dan Hamas kata New York Times.
Baca Juga: Siaga Perang, AS Kirim Kapal Selam Dan Penyerang Ke Timur Tengah
Sementara Hamas mengatakan perjanjian gencatan senjata harus mencakup diakhirinya perang dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.