nasional

‎Proyek Hilirisasi Bukit Asam: Antara Harapan dan Keraguan

Jumat, 26 September 2025 | 16:27 WIB
‎Pertambangan batubara. (Pixabay/Martina Janochová)

‎Sikap skeptis ini juga ditangkap Reuters. Dalam laporannya, selain terkendala investor, PTBA juga menghadapi tekanan pasar karena ekspor batubara Indonesia menurun tajam.

Baca Juga: ‎Heboh Angkutan Batubara 'Kode JN' Melintas di Siang Bolong

‎Permintaan domestik dari smelter nikel diperkirakan hanya akan bertahan sampai 2026. Kombinasi faktor ini membuat posisi PTBA semakin sulit mengandalkan hilirisasi yang belum jalan, sementara pasar utama perlahan menyusut.

‎Rawan Jadi Beban

‎Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar, untuk siapa sebenarnya proyek DME ini? Jika tetap dipaksakan, subsidi bisa membengkak, emisi meningkat, sementara daya saing energi bersih makin terhambat.

‎"Kalau proyek ini gagal, yang rugi bukan hanya PTBA, tapi juga kepercayaan publik terhadap PSN," kata peneliti energi dari Trend Asia.

Baca Juga: PLTU dan Tagihan Sunyi Kesehatan Publik: Ribuan Kematian Dini dan Triliunan Rupiah Melayang

‎Dengan sederet catatan itu, gasifikasi batubara di Muara Enim semakin sulit dipertahankan sebagai simbol hilirisasi. Narasi besar mengurangi impor LPG tidak sebanding dengan risiko finansial.(***)

Halaman:

Tags

Terkini

Geopolitik Minyak Venezuela dan Ekonomi Indonesia

Minggu, 11 Januari 2026 | 13:38 WIB

Kaleidoskop 2025: Sorotan Publik pada DPR

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:11 WIB